Membangun bisnis usaha sendiri tidaklah mudah. Anda memerlukan kepekaan dan tanggap patas perubahan di sekitar anda. Banyak hal yang mampu membuat bisnis bubar jalan. Terlebih lagi susahnya mengelolah keuangan dapat memusingkan anda. Hal itu bisa membuat anda terhambat dalam menciptakan inovasi-inovasi produk baru dan perkembangan bisnis anda.
Mari kita lihat apa rahasia yang perlu dilakukan untuk mengelolah keuangan bisnis anda berjalan dengan baik:
Mari kita lihat apa rahasia yang perlu dilakukan untuk mengelolah keuangan bisnis anda berjalan dengan baik:
Pengawasan Berkalapengawasan bisnis
Perlunya membuat jadwal untuk proses prosedur operasional dalam pelaporan aktivitas harian. Hal tersebut harus menjadi sebuah kebiasaan dalam kegiatan harian. Di mana proses laporan, dapat difasilitasi dengan: email, sms, telepon, atau software akuntasi online dengan tujuan kita dapat mengetahui perkembangan bisnis secara kontinu.
Pembukuan TransaksiImage of human hand pointing at touchscreen with business documentMelakukan percatatan atas transaksi usaha secara harian, yang disertai dengan bukti pendukung lain seperti kuitansi, bon dll. Hal tersebut memnciptakan usaha dengan pola pengelolaan kas secara mandiri. Apalagi dengan pola yang mudah dicatat dan dibaca bisa anda gunakan bentuk excel atau bantuan software akutansi pembukuan.
Pembukuan TransaksiImage of human hand pointing at touchscreen with business documentMelakukan percatatan atas transaksi usaha secara harian, yang disertai dengan bukti pendukung lain seperti kuitansi, bon dll. Hal tersebut memnciptakan usaha dengan pola pengelolaan kas secara mandiri. Apalagi dengan pola yang mudah dicatat dan dibaca bisa anda gunakan bentuk excel atau bantuan software akutansi pembukuan.
Kunjungan Non Regulerbos-di-kantor
Sebagai sebuah bisnis, tentu kehadiran fisik pemilik menjadi hal penting dalam melihat secara langsung perkembangan yang dicapai. Dalam hal ini, tentu ada schedule kedatangan secara berkala. Di luar jadwal tersebut, lakukan evaluasi fisik mendadak, dengan maksud untuk dapat melihat secara riil pelaksanaan pekerjaan di lokasi outlet tersebut.
Pendapatan Diarahkan Melalui PerbankanPendapatan Diarahkan Melalui Perbankan
Salah satu kemungkinan terjadinya manipulasi pengelolaan (fraud) adalah kesempatan dalam melihat cash money (uang tunai). Untuk itu, perkecil peluang tersebut, sehingga setiap hari ada jadwal penyetoran uang tunai melalui bank. Maupun memperbanyak kemungkinan pembayaran menggunakan kartu kredit maupun debit, sehingga transaksi akan langsung tertampung pada akun rekening di bank.
Membuat Proses & Prasarana Kerja Lebih TransparanCreative people working in office on computerDalam konteks ini apa yang anda sudah rencanakan untuk menempatkan CCTV dan membuat transaksi secara sistem kasir dengan menggunakan struk yang mudah untuk dikalkulasi dan menggunakan software akuntansi pembukuan BeeCloud. Kedua langkah tersebut dapat dilaksanakan. Mengingat teknologi tersebut akan menuntut para pekerja di outlet atau cabang terkontrol.
Beberapa langkah ini dapat dilakukan untuk proses pengawasan dan pengontrolan bisnis anda lebih baik. Prosedur ini diambil bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan pemilik usaha dengan para pekerja. Namun, menjadi sarana dalam mereduksi kemungkinan terjadinya praktik manipulasi usaha bila tidak diawasi langsung.
Membuat Proses & Prasarana Kerja Lebih TransparanCreative people working in office on computerDalam konteks ini apa yang anda sudah rencanakan untuk menempatkan CCTV dan membuat transaksi secara sistem kasir dengan menggunakan struk yang mudah untuk dikalkulasi dan menggunakan software akuntansi pembukuan BeeCloud. Kedua langkah tersebut dapat dilaksanakan. Mengingat teknologi tersebut akan menuntut para pekerja di outlet atau cabang terkontrol.
Beberapa langkah ini dapat dilakukan untuk proses pengawasan dan pengontrolan bisnis anda lebih baik. Prosedur ini diambil bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan pemilik usaha dengan para pekerja. Namun, menjadi sarana dalam mereduksi kemungkinan terjadinya praktik manipulasi usaha bila tidak diawasi langsung.
Analisis atau monitoring bisnis
Pemberdayaan UMKM dalam mengembangkan bisnisnya tentu tidak sekedar memerlukan dukungan dana, tetapi juga dukungan non-finansial berupa : Analisis atau monitoring bisnis, konsultasi bisnis, pelatihan bisnis, networking, dan akses pasar. Terlebih bagi bisnis UMKM, para pengusaha kecil dan sederhana tersebut mungkin tidak pernah mengerti bagaimana menyusun neraca atau istilah-istilah keuangan yang rumit. Namun, kebutuhan mereka tidak jauh berbeda dengan pengusaha besar. Mereka juga memerlukan pengetahuan untuk mengelola keuangan bisnisnya, dukungan dana, dan akses ke pasar. Dalam kaitan tersebut jelas mereka memerlukan Analisis.
Makna umum kata Analisis mudah diterka: kegiatan mendampingi atau kegiatan menyertai sesuatu atau seseorang. Dalam pengertiannya yang umum seperti ini, kata pendam pingan tidak istimewa. Dia biasa-biasa saja. Akan tetapi, sebagai konsep, kata Analisis belum lama hadir dan dipergunakan dalam diskursus Bahasa Indonesia. Konsep kata ini menjadi istimewa karena ia mewadahi nuansa-nuansa khusus yang baru, utamanya yang bertalian dengan teori belajar dan teori perkembangan budaya. Esei pendek ini hendak memosisikan kata Analisis sebagai kata-sakti dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan. Pertama akan didiskusikan berbagai (lapis) makna yang terkandung di dalam?kata Analisis dengan cara menggelarnya dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pendidikan.
Ketika membicarakan prinsip-prinsip kependidikan yang lahir dari konsep Analisis ini, berbagai atribut yang melekat pada konsep ini tersibak dan tampak menonjol. Berbagai petunjuk praktis untuk melaksanakan kegiatan Analisis yang produktif akan diajukan supaya kegiatan ini membuahkan manfaat optimal. Yang perlu segera digarisbawahi adalah bahwa Analisis bukanlah konsep statis seperti yang dimaknakan secara umum seperti disiratkan pada paragraf pembuka, melainkan konsep dinamis. Dalam praktik, konsep Analisis statis mungkin mewujud dalam serentetan instruksi yang diberikan seorang manajer untuk dilaksanakan secara membuta oleh staf bawahannya.
Proses komunikasi satu arah semacam ini bukanlah Analisis yang kita inginkan, karena relasi yang semacam ini tak memberi ruang bagi perkembangan staf yang diposisikan sebagai pelaksana perintah belaka. Konsep Analisis yang dinamis yang diinginkan adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan, dan oleh karena itu proses pelaksanaannya juga diwarnai komunikasi dua-arah. Dalam praktiknya, Analisis yang dinamis dan berbasis kemaslahatan yang dibimbingnya, yang pertama dilakukan adalah dialog yang sengaja diba ngun antara pihak yang lebih tahu dan mampu (sebut saja mentor) dengan yang pihak yang sedang belajar (mentee) yang dibimbingnya.
Dari dialog yang dibangun yang fungsi utamanya antara lain adalah menjajagi kemampuan awal dan kesiapan mentee untuk menjangkau tahapan kinerja yang lebih tinggi mentor mendesainkan rambatan struktural (atau scaffolds, dalam nomenklatur social constructivism) yang dapat membantu dan memfasilitasi mentee untuk mencapai tahapan kinerja lanjut yang diinginkannya. Dengan demikian, projek kegiatan yang dilakukan berada dalam jangkauan-belajar dan cakupan perkembangan mentee, dan pencapaiannya merupakan sesuatu yang diinginkan yang bersangkutan.
Rambatan struktural yang dimaksud di sini adalah upaya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan dan peningkatan kinerja mentee. Bentuknya dapat bermacam-macam termasuk demonstrasi, penjelasan, contoh-contoh, tugas-tugas, dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mentor ; dan semua bentuk sca?olds ini tidak dapat diberikan secara acak dan mana-suka. Tiga syarat perlu dipenuhi agar dukungan yang diberikan mentor memfasilitasi mentee dalam belajar dan berkembang.
Makna umum kata Analisis mudah diterka: kegiatan mendampingi atau kegiatan menyertai sesuatu atau seseorang. Dalam pengertiannya yang umum seperti ini, kata pendam pingan tidak istimewa. Dia biasa-biasa saja. Akan tetapi, sebagai konsep, kata Analisis belum lama hadir dan dipergunakan dalam diskursus Bahasa Indonesia. Konsep kata ini menjadi istimewa karena ia mewadahi nuansa-nuansa khusus yang baru, utamanya yang bertalian dengan teori belajar dan teori perkembangan budaya. Esei pendek ini hendak memosisikan kata Analisis sebagai kata-sakti dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan. Pertama akan didiskusikan berbagai (lapis) makna yang terkandung di dalam?kata Analisis dengan cara menggelarnya dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pendidikan.
Ketika membicarakan prinsip-prinsip kependidikan yang lahir dari konsep Analisis ini, berbagai atribut yang melekat pada konsep ini tersibak dan tampak menonjol. Berbagai petunjuk praktis untuk melaksanakan kegiatan Analisis yang produktif akan diajukan supaya kegiatan ini membuahkan manfaat optimal. Yang perlu segera digarisbawahi adalah bahwa Analisis bukanlah konsep statis seperti yang dimaknakan secara umum seperti disiratkan pada paragraf pembuka, melainkan konsep dinamis. Dalam praktik, konsep Analisis statis mungkin mewujud dalam serentetan instruksi yang diberikan seorang manajer untuk dilaksanakan secara membuta oleh staf bawahannya.
Proses komunikasi satu arah semacam ini bukanlah Analisis yang kita inginkan, karena relasi yang semacam ini tak memberi ruang bagi perkembangan staf yang diposisikan sebagai pelaksana perintah belaka. Konsep Analisis yang dinamis yang diinginkan adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan, dan oleh karena itu proses pelaksanaannya juga diwarnai komunikasi dua-arah. Dalam praktiknya, Analisis yang dinamis dan berbasis kemaslahatan yang dibimbingnya, yang pertama dilakukan adalah dialog yang sengaja diba ngun antara pihak yang lebih tahu dan mampu (sebut saja mentor) dengan yang pihak yang sedang belajar (mentee) yang dibimbingnya.
Dari dialog yang dibangun yang fungsi utamanya antara lain adalah menjajagi kemampuan awal dan kesiapan mentee untuk menjangkau tahapan kinerja yang lebih tinggi mentor mendesainkan rambatan struktural (atau scaffolds, dalam nomenklatur social constructivism) yang dapat membantu dan memfasilitasi mentee untuk mencapai tahapan kinerja lanjut yang diinginkannya. Dengan demikian, projek kegiatan yang dilakukan berada dalam jangkauan-belajar dan cakupan perkembangan mentee, dan pencapaiannya merupakan sesuatu yang diinginkan yang bersangkutan.
Rambatan struktural yang dimaksud di sini adalah upaya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan dan peningkatan kinerja mentee. Bentuknya dapat bermacam-macam termasuk demonstrasi, penjelasan, contoh-contoh, tugas-tugas, dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mentor ; dan semua bentuk sca?olds ini tidak dapat diberikan secara acak dan mana-suka. Tiga syarat perlu dipenuhi agar dukungan yang diberikan mentor memfasilitasi mentee dalam belajar dan berkembang.
Pertama, interaksi antara mentor dengan yang dibimbingnya haruslah bersifat kolaboratif dalam arti segala sesuatunya disepakati bersama. Kedua, pelajaran atau tugas yang diberikan mentor haruslah berada dalam zona perkembangan yang dibimbingnya yakni pada rentang kemampuan yang sedikit saja berada di atas kemampuan awal yang dimiliki mentee. Ketiga, bantuan rambatan struktural yang diberikan benar-benar membantu mentee dalam menjalankan apa yang tengah dipelajarinya, dan bantuan fasilitasi ini secara berangsur-angsur ditarik kembali ketika mentee mulai terlihat dapat melakukannya secara mandiri.
Dengan demikian,fasilitasi yang efektif harus memenuhi empat hal berikut:(a) tugas yang diberikan kepada mentee harus benar-benar Konsep pendampingan dinamis adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan diperlukan dan dipergunakannya untuk memungkinkan yang bersangkutan meningkatkan keterampilan dan kinerjanya oleh karena itu, tugas itu harus menarik dan mengasyikkan bagi mentee yang bersangkutan; (b) agar dapat dengan baik memandu perkembangan yang dibimbingnya, seorang mentor harus mampu mengantisipasi kesulitan dan jenis kesalahan yang mungkin dibuat mentee yang dibimbingnya; (c) selama rentang jalannya pembimbingan, berbagai jenis fasilitasi yang diberikan kepada mentee harus benar-benar diatur dan diperhitungkan urut-urutannya sehingga benar-benar efektif yakni, tahapan yang satu menjadi rambatan bagi pencapaian tahapan lainnya yang lebih tinggi; dan (d) pembimbingan didasarkan pada manajemen rasa dan semangat sehingga uktuasi rasa ingin tahu di suatu sisi dan rasa bosan atau bahkan frustrasi (bila ada) di sisi lain dapat diatur keseimbangannya sehingga rasa ingin meningkatkan diri pada diri mentee dapat secara terus-menerus dipertahankan.
Untuk kepentingan praktis, konsisten dengan yang disuarakan sejumlah literatur otoritatif, dapatlah dirumuskan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan pegangan untuk pelaksanaan pendampingan yang memberdayakan pihak yang terlibat di dalamnya seperti yang dipaparkan berikut. Prinsip pertama:
pendampingan (atau bantuan dukungan pengembangan dan peningkatan kinerja) haruslah berfungsi membantu mentee menginternalisasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunaikan tugas pokok tertentu. Prinsip kedua: pendampingan tidak boleh mencandukan; tidak boleh melenakan; dan tidak boleh menimbulkan ketergantungan. Pendampingan yang baik bersifat sementara dan memampukan yang dibinanya. Prinsip ketiga: pendampingan membebaskan dan memberdayakan. Seusai mengikuti kegiatan pendampingan mentee seyogianya merasa lebih berdaya, lebih lincah, dan lebih kreatif. Prinsip ke-empat: dalam niat dan proses pelaksanaannya, pendampingan harus mengutamakan kemaslahatan mentee yang dibinanya. Oleh karena itu, penampingan berpusat pada kepentingan perkembangan dan peningkatan kinerja mentee. Dalam keterbatasan ruang dan waktu yang tersedia, esei singkat ini telah memperkenalkan pendampingan sebagai konsep dinamis yang tengah digandrungi dalam dunia pendidikan dan pelatihan.
Dalam melakukan paparannya, tulisan ini telah pula mengindikasikan atribut apa saja yang perlu ada dan mendasari kegiatan pendampingan yang berdayaguna. Melengkapi paparannya, tulisan ini kemudian secara eksplisit merumuskan empat prinsip pokok yang harus diindahkan pihak yang berkepentingan dalam melakukan kegiatan pemdampingan yang dalam tulisan ini ditampilkan dalam sisinya yang dinamis, berbasis dialog dan berpusat pada kemaslahatan pihak yang dididik dan dibina. Semoga ada manfaatnya.
Dengan demikian,fasilitasi yang efektif harus memenuhi empat hal berikut:(a) tugas yang diberikan kepada mentee harus benar-benar Konsep pendampingan dinamis adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan diperlukan dan dipergunakannya untuk memungkinkan yang bersangkutan meningkatkan keterampilan dan kinerjanya oleh karena itu, tugas itu harus menarik dan mengasyikkan bagi mentee yang bersangkutan; (b) agar dapat dengan baik memandu perkembangan yang dibimbingnya, seorang mentor harus mampu mengantisipasi kesulitan dan jenis kesalahan yang mungkin dibuat mentee yang dibimbingnya; (c) selama rentang jalannya pembimbingan, berbagai jenis fasilitasi yang diberikan kepada mentee harus benar-benar diatur dan diperhitungkan urut-urutannya sehingga benar-benar efektif yakni, tahapan yang satu menjadi rambatan bagi pencapaian tahapan lainnya yang lebih tinggi; dan (d) pembimbingan didasarkan pada manajemen rasa dan semangat sehingga uktuasi rasa ingin tahu di suatu sisi dan rasa bosan atau bahkan frustrasi (bila ada) di sisi lain dapat diatur keseimbangannya sehingga rasa ingin meningkatkan diri pada diri mentee dapat secara terus-menerus dipertahankan.
Untuk kepentingan praktis, konsisten dengan yang disuarakan sejumlah literatur otoritatif, dapatlah dirumuskan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan pegangan untuk pelaksanaan pendampingan yang memberdayakan pihak yang terlibat di dalamnya seperti yang dipaparkan berikut. Prinsip pertama:
pendampingan (atau bantuan dukungan pengembangan dan peningkatan kinerja) haruslah berfungsi membantu mentee menginternalisasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunaikan tugas pokok tertentu. Prinsip kedua: pendampingan tidak boleh mencandukan; tidak boleh melenakan; dan tidak boleh menimbulkan ketergantungan. Pendampingan yang baik bersifat sementara dan memampukan yang dibinanya. Prinsip ketiga: pendampingan membebaskan dan memberdayakan. Seusai mengikuti kegiatan pendampingan mentee seyogianya merasa lebih berdaya, lebih lincah, dan lebih kreatif. Prinsip ke-empat: dalam niat dan proses pelaksanaannya, pendampingan harus mengutamakan kemaslahatan mentee yang dibinanya. Oleh karena itu, penampingan berpusat pada kepentingan perkembangan dan peningkatan kinerja mentee. Dalam keterbatasan ruang dan waktu yang tersedia, esei singkat ini telah memperkenalkan pendampingan sebagai konsep dinamis yang tengah digandrungi dalam dunia pendidikan dan pelatihan.
Dalam melakukan paparannya, tulisan ini telah pula mengindikasikan atribut apa saja yang perlu ada dan mendasari kegiatan pendampingan yang berdayaguna. Melengkapi paparannya, tulisan ini kemudian secara eksplisit merumuskan empat prinsip pokok yang harus diindahkan pihak yang berkepentingan dalam melakukan kegiatan pemdampingan yang dalam tulisan ini ditampilkan dalam sisinya yang dinamis, berbasis dialog dan berpusat pada kemaslahatan pihak yang dididik dan dibina. Semoga ada manfaatnya.
Tidak ada komentar
Posting Komentar